Pengembangan Perempuan dalam Budaya Peranakan melalui Penciptaan Karya Tari Cokek Berjudul Nyai Cukin Era Jakarta Tempo Doeloe
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta
Abstract
Cokek merupakan kesenian Betawi yang lahir sejak abad ke-18 dan dapat pengaruh budaya Peranakan Tionghoa. Tari Cokek pada zaman dahulu dibina dan dikembangkan oleh tuan-tuan Cina yang kaya raya. Istilah Peranakan diartikan sebagai hasil pencampuran budaya antara budaya Tionghoa yang berasal dari kaum migran Hokkian di belahan provinsi selatan di Cina dengan budaya setempat.
 Tujuan penelitian adalah mengembangkan wawasan dan keilmuan tentang budaya peranakan Tionghoa sebagai salah satu unsur dalam budaya Betawi, serta pengembangan berbagai ilmu baik tari, musik, teater dan skenografi sebagai sumber isnpirasi penciptaan tari yang berpijak pada tari Cokek.
 Metode analisis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Research and Development dengan 10 tahapan, tetapi dalam tahap II penelitian hanya menggunakan 7 Tahapan yaitu: (1) Potensi dan Masalah, (2) Studi Literatur dan Pengumpulan Informasi, (3) Desain Produk, (4) Validasi Desain, (5) Revisi Desain, (6) Ujicoba awal (7) Revisi Produk. Teori yang digunakan yaitu teori penciptaan Alma M Hawkins Moving from Within: A New Method for Dance Making terjemahan I Wayan Dibia Bergerak Menurut Kata Hati: Metode Baru dalam Mencipta Tari yang terdiri dari mengalami atau mengungkapkan, melihat, merasakan, menghayalkan, mengejewantahkan, dan pembentukan.
 Penciptaan tari Nyai Cukin Era Jakarta Tempo Doeloe berbentuk teater tari kontemporer dengan mengunakan dengan menggunakan 7 penari perempuan dan 6 penari laki-laki, menggambarkan tentang perempuan sebagai penari Cokek dimana mereka sambil menuangkan pikiran yang penat melalui bersenda gurau sambil menunggu pasangannya di Kalijodo